Cairbos – Drama Penalti di Kairo: USM Alger Rebut Piala Konfederasi CAF untuk Kedua Kalinya, Taklukkan Zamalek 8-7

Cairbos – Malam bersejarah tercipta di Kairo pada 17 Mei 2026 ketika klub Aljazair USM Alger berhasil memenangkan Piala Konfederasi CAF untuk kedua kalinya setelah menundukkan tuan rumah Zamalek dari Mesir melalui drama adu penalti yang menegangkan dengan skor 8-7. Laga final leg kedua yang berlangsung di hadapan pendukung fanatik Zamalek itu menjadi saksi bisu salah satu momen paling dramatis dalam sejarah kompetisi sepak bola antarnegara Afrika tingkat kedua tersebut.

Zamalek sejatinya tampil perkasa di hadapan pendukung sendiri dan berhasil memenangkan leg kedua final dengan skor 1-0. Gol tunggal yang menentukan itu lahir dari titik putih hanya lima menit setelah peluit pertama berbunyi, dieksekusi dengan tenang oleh pemain Palestina Oday Dabbagh. Gol tersebut menyamakan skor agregat menjadi 1-1, sekaligus memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti untuk menentukan sang juara. Dabbagh, yang bergabung dengan Zamalek tahun lalu setelah menjalani masa pinjaman di klub Skotlandia Aberdeen, tampil penuh keyakinan dalam mengeksekusi penalti tersebut — ia tetap tenang, mengecoh kiper USM Oussama Benbot, dan mengembalikan kedudukan imbang dalam agregat.

Kemenangan Zamalek di leg kedua ini sebenarnya menjadi balasan atas kekalahan mereka di leg pertama yang berlangsung akhir pekan sebelumnya. Pada pertemuan pertama itu, USM Alger keluar sebagai pemenang tipis dengan skor 1-0, juga berkat sebuah gol penalti. Adalah Ahmed Khaldi yang menjadi pahlawan tim tamu, dengan dingin mengeksekusi tendangan penentu kemenangan delapan menit memasuki waktu tambahan. Dua gol dari titik putih di dua leg final — ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari betapa rapatnya pertahanan kedua tim sepanjang babak gugur kompetisi ini.

Jalannya pertandingan leg kedua di Kairo sendiri tidaklah berjalan mulus. Pertandingan balasan antara Zamalek dan USM ini sering kali berlangsung sangat sengit, diwarnai berbagai penundaan akibat cedera pemain maupun perdebatan panas dengan wasit asal Gabon yang memimpin laga. Kurang dari dua menit pertandingan berjalan, pemain Kamerun Che Malone sudah melakukan pelanggaran terhadap pemain Palestina Adam Kaied. Namun karena protes dari berbagai pihak terus bergulir, dibutuhkan waktu tiga menit tambahan sebelum tendangan penalti akhirnya bisa dilaksanakan — penalti itulah yang kemudian dikonversi oleh Dabbagh.

Zamalek sempat kembali mengancam gawang USM ketika sundulan pemain Brasil Juan Bezerra bersarang di jaring pada menit ke-15. Namun wasit menganulir gol tersebut karena offside. Nasib serupa pernah menimpa Bezerra di leg pertama, di mana ia juga mencetak gol yang kemudian dinyatakan tidak sah. Seolah menjadi kutukan tersendiri bagi sang pemain dalam duel dua leg melawan USM kali ini.

Babak adu penalti menjadi puncak ketegangan yang sesungguhnya. Kedua tim memperlihatkan ketangguhan mental luar biasa — masing-masing berhasil mengeksekusi tujuh tendangan pertama mereka tanpa satu pun yang gagal. Namun tekanan akhirnya menjatuhkan salah satu pemain. Kapten pengganti Zamalek, Mohamed Shehata, mendapat giliran mengambil tendangan kedelapan timnya dalam situasi yang sangat krusial. Sebelum melakukan tendangan, Shehata terlihat kesulitan menempatkan bola di titik penalti dengan benar. Situasi itu dimanfaatkan oleh kiper USM Oussama Benbot yang dengan cerdik melangkah maju dari garis gawangnya, semakin menambah tekanan psikologis dan memperpanjang penantian. Ketika tendangan akhirnya dilakukan, bola melambung jauh melewati mistar gawang — sebuah eksekusi yang gagal total di momen paling menentukan.

Kesempatan emas pun berpindah ke kubu USM. Pemain pengganti asal Kongo, Glody Likonza, maju ke titik penalti dengan beban yang tidak kecil: satu tendangan untuk meraih gelar juara. Likonza tidak gentar. Ia mengarahkan bola ke sudut kiri gawang dengan kecepatan dan akurasi yang memaksa kiper Mohamed Awad untuk terbang ke arah yang benar. Ujung jari tangan Awad sempat menyentuh bola, namun tidak cukup kuat untuk menghalau tendangan tersebut. Bola tetap masuk, dan USM Alger pun resmi menjadi juara Piala Konfederasi CAF 2026.

Kemenangan ini bukan yang pertama bagi USM di kompetisi ini. Pada tahun 2023, klub berjuluk “The Reds” itu juga berhasil meraih trofi yang sama, kala itu mengalahkan Young Africans dari Tanzania berkat aturan gol tandang — sebuah format yang kini sudah tidak lagi digunakan dalam sepak bola modern. Dengan dua gelar di kompetisi setara Liga Europa UEFA di Afrika ini, USM Alger semakin mempertegas statusnya sebagai kekuatan besar di level kedua sepak bola antarnegara Afrika.

Pencapaian USM di final kali ini juga mencetak rekor tersendiri dalam sejarah kompetisi. Mereka menjadi klub pertama yang berhasil memenangkan final Piala Konfederasi CAF setelah hanya unggul dengan skor 1-0 di leg pertama. Sebelumnya, tim-tim seperti Dolphins dari Nigeria, Club Africain dari Tunisia, dan Renaissance Berkane dari Maroko pernah berada dalam posisi serupa — memimpin tipis di leg pertama — namun semuanya gagal mempertahankan keunggulan tersebut di leg kedua.

Sementara bagi Zamalek, malam ini menjadi catatan pahit yang menyejarah dengan caranya sendiri. Ini adalah kekalahan pertama mereka di final Piala Konfederasi CAF setelah sebelumnya dua kali tampil di partai puncak dan dua kali pulang dengan trofi. Kemenangan pertama Zamalek diraih pada tahun 2019 melalui adu penalti atas Renaissance Berkane dari Maroko, sementara gelar kedua mereka raih pada tahun 2024 juga atas Berkane, kali ini melalui aturan gol tandang. Rekor sempurna di final yang mereka jaga selama tujuh tahun itu akhirnya berakhir di tangan USM Alger.

Di luar lapangan, kemenangan ini juga membawa dampak finansial yang signifikan. USM Alger berhak mengantongi hadiah uang tunai sebesar 4 juta dolar Amerika sebagai juara Piala Konfederasi CAF, sementara Zamalek yang diketahui tengah menghadapi tekanan utang yang berat harus puas dengan 2 juta dolar sebagai runner-up. Selisih yang cukup berarti, baik dari sisi prestise maupun kondisi keuangan kedua klub.

Lebih dari sekadar trofi dan uang hadiah, kemenangan USM membuka peluang bergengsi lainnya. Klub asal ibu kota Aljazair itu kini berhak tampil dalam pertandingan tunggal Piala Super CAF, di mana mereka akan menghadapi pemenang Liga Champions CAF — yang saat ini masih diperebutkan antara Mamelodi Sundowns dari Afrika Selatan dan FAR Rabat dari Maroko. Siapa pun lawan yang akan dihadapi, USM Alger akan melangkah ke laga tersebut dengan penuh kepercayaan diri sebagai salah satu tim terbaik di benua Afrika musim ini.

Scroll to Top